Feeds:
Posts
Comments

Pamitan

Mulai Minggu, 5 Juli 2009,
saya akan menghentikan pengelolaan blog ini.
Menghentikannya, bukan menghapusnya. Artinya,
saya tidak akan memperbarui isi dan datanya,
tetapi data-data lama akan saya biarkan tersimpan di sini.
Bila Anda berminat mengikuti perkembangan kepenulisan saya,
Anda dapat mengaksesnya di:
Notes of 40+
Terima kasih!

Oleh: Anindita S. Thayf **

Warrior: Sepatu Untuk Sahabat (WSUS) adalah salah satu novel remaja Arie Saptaji yang begitu saya tahu diterbitkan oleh salah satu penerbit besar, yang telah menolak naskah saya berkali-kali, membuat saya bergegas terbang untuk membelinya. Alasannya sudah pasti; ingin mengetahui resep rahasia sang penulis hingga berhasil mencuri hati para editor di penerbitan itu. Kali ini, dalam acara Dialog Sastra, saya berkesempatan membagi apa yang saya anggap sebagai “resep rahasia” Arie Saptaji dalam menulis Warrior: Sepatu Untuk Sahabat (Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Yang Lain Daripada Yang Lain

Memasuki tahun 2000, novel remaja lebih dikenal dengan nama baru yang terdengar lebih “wah”: teenlit atau teen literature. Sebuah label berbahasa non-Indonesia untuk novel yang isinya tetap ditulis menggunakan bahasa Indonesia—meski tidak 100% karena disusupi bahasa asing di sana-sini. Novel-novel remaja tersebut diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan dan tema ala remaja yang ringan pula. Pada sampul WSUS, label “Teenlit: Speaks Your World” juga terlihat melekat di bagian tengah bawah, yang berarti  novel ini (oleh penerbitnya) dikotakkan sebagai novel remaja yang berkisah tentang dunia remaja.

Namun, berbeda dari kebanyakan novel remaja yang terbit akhir-akhir ini, WSUS memiliki keunikan tersendiri, yang membuatnya berbeda daripada yang lain.

Pertama, isi WSUS terbukti 100% bebas kontaminasi bahasa asing (baca: bahasa Inggris), kecuali kata “Warrior” pada judulnya yang semula saya artikan sebagai “Prajurit”, tetapi ternyata mengacu pada merk sepatu tertentu:

Sepatu kets bertali warna hitam kombinasi putih itu memang lagi beken. Di bagian yang menutupi mata kaki ada lingkaran karet bergambar timbul kepala prajurit Indian: Warrior. (hal 139-140)

Kedua, tema WSUS sangat sederhana, yaitu tentang sepatu. WSUS berkisah tentang anak seorang janda penjual kue lopis bernama Sri Suryani. Sri adalah murid yang berbakat di bidang olahraga. Dia terpilih sebagai salah satu peserta kelompok gerak jalan di sekolahnya, SMP Negeri Ngadirejo. Kelompok tersebut akan mengikuti lomba gerak jalan melawan sejumlah sekolah dari daerah lain. Semula, Sri merasa gembira karena terpilih mewakili sekolah bersama teman-temannya, tapi Sri kemudian teringat sepatunya. Sri yang berasal dari keluarga miskin tidak mampu membeli sepatu baru. Sepatu Sri, bermerk Bibos, sudah berlubang di bagian kelingking, hingga membuatnya minder. Cerita pun bergulir tentang bagaimana usaha Sri mendapatkan sepatu baru; apakah dengan menabung, meminjam, atau meminta bantuan Simbok (ibu Sri). Ketika akhirnya uang tabungan Sri terkumpul (setelah sebelumnya, tanpa terduga, ibu seorang sahabat meminta Sri membantunya membuat kue), Sri justru menggunakannya untuk membantu biaya operasi sahabatnya yang lain. Impian Sri membeli sepatu baru pun kandas. Meski begitu, kisah Sri ini berakhir bahagia karena seorang sahabat muncul sebagai penyelamat yang membelikan Sri sepasang sepatu baru dengan uang tabungannya.

Sebenarnya, kisah dengan tema serupa (tentang seorang anak dari keluarga tak mampu yang menginginkan sepasang sepatu, atau tentang seorang remaja yang dipandang sebelah mata oleh teman-temannya tapi mampu membuktikan prestasi yang bagus di bidang olahraga, atau tentang anak dari keluarga sederhana yang terbiasa menderita tapi tetap baik dan rendah hati) tidak begitu asing lagi. Tema sejenis mengingatkan saya pada sebuah film Indonesia jaman dulu Gadis Marathon, film asal Iran yang berjudul Children of Heaven, juga sinetron-sinetron tahun 90-an yang bertema kesederhanaan hidup: Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara. Tapi, begitu tema tersebut diangkat oleh Arie Saptaji lewat novel remajanya ini, hal tersebut menjadi sesuatu yang unik (baca: berbeda) dari kebanyakan tema novel remaja yang ada. Kesederhanaan yang ditawarkan WSUS serupa angin segar di tengah keseragaman tema cinta-cintaan dan gaya hidup remaja urban yang terkesan glamor dan cenderung konsumerisme. Inilah yang menjadi salah satu rahasia kekuatan novel ini.

Yang Berasal Dari Hati dan Ditulis Dengan Hati-hati

Hati. Arie Saptaji menulis novel WSUS dengan hati. Campur tangan hati diakui sendiri oleh penulisnya lewat sebuah kalimat di halaman pertama yang berbunyi:

“Sekelumit kenangan tentang Ngadirejo, Temanggung dan tahun 1980-an.”

Sekilas, kalimat tersebut serupa sebuah persembahan, apalagi ditempatkan di bawah kalimat: “Untuk Bapak”. Namun, begitu pembaca melangkah masuk ke halaman demi halaman berikutnya,  maka kata “Ngadirejo” dan  “Temanggung” akan sering muncul sebagai setting kisah, begitu pun suasana tahun 1980-an seolah hidup kembali sejak awal hingga akhir novel. Sebagai pembaca, saya langsung berkesimpulan kalau WSUS mungkin lebih tepat disebut sebagai novel yang berisi pengalaman dan kenangan hidup sang penulis. Untuk selanjutnya, saya sebut saja sebagai “novel curhat”.

Sebagai “novel curhat”, WSUS bukanlah novel remaja pertama yang berasal dari cucuran hati si penulis. Sebagian besar novel remaja masa kini terinspirasi atau bermula dari pengalaman hidup penulisnya, yang kemudian ditumpahkan dalam bentuk buku harian atau blog pribadi, yang pada akhirnya berhasil diterbitkan dalam bentuk buku. Tapi, sebagai penulis yang telah menghasilkan banyak karya dan ada pula yang menorehkan prestasi, Arie Saptaji bercurhat dengan santun dan hati-hati. Ia tidak terjebak dalam keinginan untuk mengeluarkan semuanya sekaligus hingga meninggalkan kesan terburu-buru. Disebabkan hal itu, novel ini terkesan lebih hidup, baik penggambaran tokoh Sri maupun deskripsi setting-nya. Sebagai penulis, Arie Saptaji berhasil membawa kembali kenangannya tentang suasana Ngadirejo di tahun 1980-an dengan cukup meyakinkan.

Jawa dan Non Jawa

WSUS adalah novel remaja yang bernuansa Jawa sangat kental. Hal ini sudah terlihat sejak halaman pertama:

Mestinya wajah Sri sumringah penuh penantian seperti teman-teman lainnya. (hal: 7)

Bagi pembaca yang tidak tahu arti kata sumringah (dalam buku sengaja dicetak dengan huruf miring), dapat melihat pada Daftar Istilah Bahasa Jawa yang terselip di halaman paling belakang. Daftar tersebut tampaknya sengaja disisipkan oleh penulis mengingat banyaknya istilah bahasa Jawa yang digunakannya dalam novel ini.

Sebagai pembaca yang tidak berasal dari suku Jawa, terus terang, saya merasa cukup terganggu mengikuti kisah Sri. Perasaan yang mungkin hampir sama dengan yang  dialami oleh para penggila sinetron ketika serenteng iklan menginterupsi adegan favorit mereka. Mengeluh dalam hati sambil membiarkan iklan tersebut lewat, sementara saya mengeluh karena harus melompat ke halaman belakang untuk mencari arti kata tersebut dalam daftar istilah bahasa Jawa yang ada.

Yang sering saya alami ketika membaca WSUS adalah begini, saya yang sudah merasa terbawa hanyut oleh arus cerita tiba-tiba merasa diputus secara paksa oleh sebuah istilah atau kalimat bahasa Jawa yang tidak saya pahami. Meskipun bisa saja saya melompati istilah tersebut, dengan membaca kata atau kalimat selanjutnya, tapi tidak saya lakukan karena saya merasa ingin memahami kisah novel ini seutuhnya, tanpa ada bolong yang berisi tanda tanya.

Baru sekitar setahun PLN tersambung ke desa mereka, mengalirkan energi listrik siang-malam. Masuknya PLN itu mengakhiri era PLTD, pembangkit listrik tenaga diesel, yang hanya dinyalakan setiap petang sampai pagi. Berakhir pula kebiasaan Sri menyiapkan lampu petromaks…

… Kini ia tinggal menekan sakelar untuk menyalakan lampu neon 40 watt yang memendarkan warna putih susu. Mereka masih menyiapkan lampu teplok untuk berjaga-jaga kalau terjadi oglangan.  (hal: 95)

Sri merasa kerongkongannya tersekat, matanya panas.

“Dhuh Gusti paringana pepadhang,” ratap Lik Tumi (hal: 142)

Jika istilah dan kalimat di atas bisa ditemukan artinya dengan cukup mudah pada daftar istilah, maka ada pula istilah yang mampu menyesatkan para pembaca non Jawa karena multitafsir. Contoh, kata “wong”.

“Kalau dipikir-pikir, apa coba yang membuatmu kepingin melempari jambu Pak Karto? Wong di rumahmu buah-buahan sudah berlimpah begini!” cetus Sri suatu ketika. (hal: 103)

“Kalau wayang wong sebenanarnya saya suka, Pak,” kata Sri. (hal: 111)

“Lha bojoku saja digondol wong wedok lain, apa ya masih ada wong lanang yang masih mau kecantol sama aku,” kata Lik Tumi. (hal: 46)

Untuk satu kata yang sama, “wong”, penulis hanya memasukkan arti kata “wong” pada kalimat ketiga dalam daftar istilah.

Wong wedok = perempuan

Wong lanang = laki-laki  (hal: 183)

Sementara, kata “wong” pada kalimat pertama dan  kedua tidak ada di dalam daftar istilah. Ini menyebabkan pembaca dipaksa menebak-nebak arti kata “wong” yang tidak terjelaskan itu.

Bagi pembaca non Jawa, selain kata/istilah atau kalimat berbahasa Jawa, hal lain yang juga cukup membingungkan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Sebagai penulis yang berasal dari Jawa,  tentunya Arie Saptaji sudah terbiasa mendengar nama hari disebutkan dalam urutan Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing, bukan Senin, Selasa, Rabu…. dan seterusnya hingga Minggu. Di Jawa, urutan hari itu disebut hari pasaran karena pasar-pasar di Jawa dibuka berdasarkan urutan hari tersebut.

Setiap hari Wage Simbok berangkat agak siang karena dia berjualan di Pasar Adiwinangun… (hal: 35)

Begitu pula nama sejenis permainan, yang walau telah berusaha digambarkan dengan detil oleh si penulis, tetapi pada awalnya terasa membingungkan bagi pembaca non Jawa.

Sri ingat, saat bermain jamuran, mereka sudah dengan cerdas langsung membuat peraturan awal: jamur kendi borot hanya boleh diminta satu kali sepanjang permainan. Jamuran, dolanan yang dimainkan dengan menembangkan Jamuran, menawarkan keasyikan berain peran….  (hal: 96)

Remaja Jadoel VS Remaja Jaman Sekarang

Seperti yang telah saya katakan di atas, saya sempat mengira arti kata “Warrior” pada judul novel karya Arie Saptaji ini adalah “prajurit”. Nyatanya, yang dimaksud Warrior adalah merk sepatu yang terkenal pada tahun 1980-an. Begitu tahu hal tersebut, otak saya dengan mudah menggambarkan kembali bentuk sepatu kets hitam beraksen putih yang pernah saya miliki dulu. Pertanyaannya, apakah anak remaja jaman sekarang (baca: yang lahir setelah tahun 1980-an) dengan mudah bisa menangkap maksud si penulis ketika memilih untuk menyisipkan begitu banyak istilah yang populer pada tahun 1980-an? Apakah tidak terjadi hal yang sebaliknya, mereka merasa ada suatu lompatan waktu yang tidak mereka mengerti, termasuk salah satunya membedakan antara sepatu Warrior yang beken jaman dulu dengan sneakers yang populer saat ini?

Bagi saya, yang tergolong remaja jadoel alias remaja jaman dulu, membaca WSUS ibarat membuka-buka album memori masa sekolah dulu. Banyak istilah yang telah saya kenali bertebaran di mana-mana. Misalnya, Lagu Pilihanku, Dunia Dalam Berita, Lima Sekawan, Little House hingga potongan bait lagu “Apanya Dong” milik Euis Darliah. Istilah-istilah itu muncul serupa kliping detil dari nuansa tahun 1980-an yang mau tak mau membuat setiap pembaca yang berstatus remaja jadoel dengan mudah mengikuti arus kisah Sri, termasuk saya. Hingga tibalah saya pada sebuah istilah yang kurang begitu saya kenali dan membuat saya bertanya kesana-kemari. Saya hanya mengenal Bobo dan Bibi Tutup Pintu, sebaliknya tidak dengan Kuncung dan Nenek Limbak. Siapa mereka?

Sri duduk di ambang pintu, membaca Si Kuncung yang dipinjamnya dari Mbak Ratih. Ia paling suka dengan Nenek Limbak. Dulu ada sempat terpikir olehnya untuk menyurati Nenek Limbak, agar membantunya mengatasi masalah sepatu. (hal: 98).

Pesan dan Kesan

    Tak dapat dimungkiri, novel WSUS ini sarat pesan moral yang berguna, terutama bagi remaja. Yaitu, tentang persahabatan yang tulus dan kesederhaan hidup. Pesan moral dalam novel ini tersaji begitu sederhana dan apa adanya. Tak tampak  dipaksakan atau menggurui.

    Sayangnya, novel ini pun sarat informasi yang menurut saya kurang penting. Informasi tersebut berupa artikel, biografi singkat sejumlah tokoh, hingga sebuah cerpen ditampilkan utuh dalam novel ini—cerpen tersebut bukan hasil karya si tokoh utama, Sri, melainkan bapak sahabatnya. Dari 177 halaman novel ini, sekitar 22 halamannya berisi informasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan alur cerita. Seolah disajikan agar membuat pembacanya menjadi lebih pintar, tapi entah mengapa jsutru terkesan memaksakan. Misalnya, potongan artikel tentang Discovery, biografi  Adam Malik, Indira Gandhi, Jesse Owen, hingga Purnomo, sprinter Indonesia yang lolos ke semifinal 100 meter Olimpiade di Los Angeles, 1984. Terdapat pula, informasi yang terkesan lebih merupakan suara penulis, bukan suara Sri.

    Sri tergeragap. Empat ratus tahun? Sri mencoba membalik-balik halaman sejarah. Tepat 400 tahun lalu, Sultan Baabullah, yang membawa Ternate ke masa keemasannya, meninggal dunia… dan VOC belum menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Eropa sendiri masih geger setelah terbelah oleh Reformasi Luther….” (hal: 94)

    Novel ini juga cukup sarat dengan kalimat indah dan kata-kata yang jarang digunakan dalam sebuah novel remaja jaman sekarang. Kata-kata yang memaksa pembacanya mengerutkan kening, mencoba menebak-nebak, sebelum kemudian membuka kamus Bahasa Indonesia untuk mencari artinya jika penasaran.

    Namun, terlepas dari segala kekurangannya, Warrior: Sepatu Untuk Sahabat adalah salah satu novel remaja yang bertema sederhana dan sarat pesan moral.  Novel yang berhasil membawa pembacanya, terutama para remaja era 1980-an, bernostalgia ke masa lalu, termasuk saya.***

    * Disampaikan dalam Obrolan Sastra yang diadakan kerjasama antara komunitas Apresiasi Sastra dengan Yayasan Umar Kayam, Yogyakarta, 5 Mei 2009.

    ** Penulis novel konyol dan novel anak. Novel etnografinya tentang Papua, Tanah Tabu, menjadi juara tunggal Sayembara Novel DKJ 2008.

    resensi tetangga sebelah

    masih ada tetangga yang ngulas novel ini…

    matur nuwun, tuan malam!

    warrior pulang kampung

    yap. agustusan kemarin, saya ikut acara bakti sosial yang diadakan ikatan kadang temanggungan. saya kebagian berbagi pengalaman menjadi penulis di sma bhakti karya, kaloran, dan sharing tips menulis dengan 100-an guru se-Temanggung. Detilnya, aku kutip saja posting mas Frahma Alamiarso, ketua IKT, dari milis.

    Oya, belum terceritakan di situ, di SMA Kaloran, kami dijamu makan siang yang khas Temanggung betul. Ada sega jagung (duh, kapan terakhir kali menikmati menu ini ya?), empis-empis (pembaca warrior pasti ingat menu ini), sambel goreng tongkol (dulu ibu sering bikin ini), belum lagi cenil dan grontol. Maknyus!

    Akhirnya purna sudah perhelatan Kadang Peduli IKT 2008 yang dilaksanakan
    bertepatan dengan HUT RI ke 63, dari tanggal 16 – 18 Agustus 2008 di Kec.
    Gemawang dan Jumo , Kab. Temanggung.

    Serangkaian kegiatan telah usai digelar dan tirai panggung hiburanpun telah
    tertutup rapi, meninggalkan guratan makna dan kesan yang begitu mendalam.
    Dengan melibatkan berbagai komponen baik dari kalangan Pemerintah,
    Akademisi, praktisi di berbagai bidang profesi, serta masyarakat Temanggung
    lainnya, yang berbaur menjadi satu dalam sebuah nuansa kebersamaan, guna
    merealisasikan beragam kegiatan, diantaranya adalah sbb :

    1. Pembuatan dan peresmian Perpustakaan di Muncar , Gemawang.
    2. Pembuatan dan peresmian Perpustakaan di Gedong Sari 2, Jumo.
    3. Pembuatan dan peresmian Pusat Pelatihan Komputer di Kalibanger ,
    Gemawang.
    4. Penyuluhan kepada Guru-guru di Temanggung (150 orang) di SMKN2
    Temanggung
    5. Penyuluhan kepada Guru-guru Pertanian di Temanggung, Bawen dan Salam
    di SMKN1 Maron, Temanggung
    6. Penyuluhan kepada siswa kelas III di 4 sekolah , yaitu : SMU PGRI
    Kaloran, SMU Sudirman Tembarak, MA Al Mukmin Tembarak dan MA Mualimin
    Parakan.
    7. Penyerahan pohon penghijauan kepada Kec. Gemawang
    8. Penyerahan buku kepada Perpustakaan di Kaloran, Manding dan Tleter.
    9. Pemberian Piala , hadiah dan uang pembinaan kepada juara lomba 17an di
    Gemawang.

    Kegiatan baksos yang secara periodik diselenggarakan setiap tahun sekali
    ini, alhamdullilah telah terlaksana dengan lancar, aman dan mungkin juga
    sukses jika dilihat dari kemeriahan acaranya. Tahun ini Kadang Peduli
    memasuki usianya yang ke 3 Th, dan rasa-rasanya merupakan kegiatan yang
    paling berat yang pernah kita laksanakan. Dengan berbagai kegiatan yang
    dilaksanakan di 6 Kecamatan sekaligus di Temanggung yaitu di Kec. Temanggung,
    Kec. Parakan, Kec. Tembarak, Kec. Kaloran, Kec. Gemawang dan Kec. Jumo,
    dalam waktu yang berurutan, ternyata sangat menguras tenaga, pikiran
    dan tentunya
    materi yang tidak sedikit. Apalagi jika dikaitkan dengan jumlah panitya yang
    tidak lebih dari 20 orang, membuat tugas dan pekerjaan yang harus kami emban
    menjadi sangat berat. Namun berkat semangat juang, kerja keras dari semua
    panitya dan tentunya juga do’a dari panjenengan sedoyo, akhirnya Kadang
    Peduli IKT 2008 dapat berjalan sesuai dengan harapan kita semua.

    *Hari pertama, 16 Agustus 2008,*

    Diawali dengan kegiatan penyuluhan kepada guru dan siswa SMU kelas III,
    merupakan hari paling berat yang harus kami lalui. Karena selain memberikan
    penyuluhan, sebagian panitya seperti mas Heri, mas Agus Nugraha, mbak Maya,
    mas Anshori, mbak Syan, mas Bangkit, mas Itok, mas Ipoeng serta mbak Nurul,
    masih harus melakukan persiapan akhir di perpustakaan Muncar, Gemawang dan
    Gedong Sari 2, Jumo. Beruntung kami dibantu juga oleh Mas Herman dan teamnya
    (dari ICT Center Temanggung) yang dengan sukarela memberikan dukungannya (full
    support), dalam rangka instalasi jaringan komputer guna peresmian Pusat
    Pelatihan Komputer di Kalibanger, Gemawang. Di lain tempat, kami juga harus
    menyerahkan piala dan door prize lomba gerak jalan santai, yang digelar di
    Kec. Gemawang pada waktu yang juga bersamaan. Bisa dibayangkan bagaimana
    serunya melakukan koordinasi di 6 Kecamatan sekaligus pada saat yang
    bersamaan, yang semuanya diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan
    sempurna.

    Dari ajang penyuluhan kepada Guru-guru Pertanian yang dilaksanakan di SMKN 1
    Maron, berjalan cukup seru dan dinamis. Dengan menghadirkan pembicara yang
    cukup “berbobot dan berkelas”, seperti Bp. Graito Usodo (mantan Kapuspen
    ABRI), Bp. Djumali Mangunwidjaja (Guru Besar IPB) dan Bp. Haryanto W.
    Sukotjo (Dirjen. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Dep. Kehutanan RI),
    membuat peserta seminar yang hadir saat itu cukup antusias dan terpuaskan
    dengan materi seminar yang disajikan.

    Sementara itu , di SMKN2 Temanggung, berlangsung Workshop Penulisan Naskah
    Ilmiah , dengan mengadirkan pembicara yang tidak kalah kelasnya seperti :
    Bp. M. Mustofa (Guru Besar UI), Bp. Djumali Mangunwidjaja (Guru Besar IPB),
    mas Anif Punto Utomo (Wartawan Senior Republika), mas Isbudiyanto ( Senior
    Motivator dari Martatilaar Group) dan mas Ari Saptaji (Pengarang Buku
    Profesional). Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 150 orang guru se
    Temanggung, dari SD – SMU ini , berlangsung cukup seru dan menarik dari
    pagi hingga sore hari.

    Pada saat yang bersamaan , di tempat yang terpisah, juga dilakukan
    penyuluhan kepada siswa SMU kelas III, yang terbagi menjadi 4 team, yaitu :
    SMU PGRI Kaloran dengan mentor : mbak Nuniek, mas Haniefudin dan mas Ari. Di
    MA Al Mukmin Tembarak dengan mentor : mas Isbudiyanto, mbak Maya, mas
    Anshori, mas Giyanto dan mbak Hana. Di SMA Sudirman Tembarak : mas Heri, mas
    Ipoeng, mbak Nurul dan mas Gunawan. Sedangkan di MA Mualimin Parakan : mas
    Nurdin dan mas Dimas. Ada satu cerita menarik dari teman-teman di PGRI
    Kaloran, mereka benar-benar menyambut team IKT dengan penuh antusias, dengan
    suguhan tarian dan lagu. Yang membuat decak kagum kami semua adalah saat
    mereka menyampaikan sambutan dan memperkenalkan diri dengan menggunakan
    bahasa Inggris dengan lancar dan fasihnya, luar biasa … engatase wong
    ndeso lho yo .. ck..ck..ck… salud untuk adik-adik di SMU PGRI Kaloran.

    Hari pertama ini kami tutup dengan mengikuti malam tirakatan di Kec.
    Gemawang bersama Muspika, Kepala Desa, tokoh masyarakat dan warga setempat,
    yang berakhir hingga jam 22.00 WIB. Pada kesempatan itu, berkenan memberikan
    ceramah perjuangan dengan tema utama : Meningkatkan ketahanan ekonomi dan
    ketahanan keamanan dalam rangka menghadapi era globalisasi dewasa ini, yang
    disampaikan langsung oleh Bp. Graito Usodo (Ketua Umum IKT).

    *Hari kedua, 17 Agustus 2008.*

    Kami semua mengikuti upacara bendera di lapangan Kec. Gemawang tepat jam
    09.10 WIB, dengan Irup Bp. Camat Gemawang. Pada kesempatan ini, IKT
    menyerahkan beberapa pohon penghijauan yang diterima oleh Bp. Iman Setiarso,
    Camat Gemawang. Kemudian acara dilanjutkan dengan peresmian *Pusat Pelatihan
    Komputer *di Kalibanger, Gemawang yang diberi nama* “KADANG KINARYO”*.
    Puncak acara peresmiannya ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bp. Graito
    Usodo (IKT) yang didampingi oleh mas Kristiono dan mas Joni dari Filtra.
    Pusat Pelatiahn Komputer KADANG KINARYO yang merupakan prakarsa dari
    teman-teman Filtra (Forum Silaturahmi Temanggung Utara) bekerjasama dengan
    IKT ini, menyediakan 12 komputer yang siap dioperasionalkan khususnya bagi
    para guru-guru di Gemawang, Jumo dan sekitarnya. Suasana pembukaan terlihat
    cukup meriah, dengan menampilkan pertunjukkan Drum Band MI Muhammadiyah
    Kalibanger serta pagelaran Tari Barongan dan Kuda lumping dari Gemawang.

    Kemudian acara dilanjutkan dengan peresmian Perpustakaan di SDN 2 Gedong
    Sari , Jumo. Dengan jumlah buku sumbangan 5000 buah dan dilengkapi dengan 1
    unit komputer, perpustakaan yang diberi nama *”KADANG RUMEKSO”* ini siap
    menjadi arena pembelajaran bagi warga Jumo dan sekitarnya.

    Dari Jumo kami kembali lagi ke Kecamatan Gemawang untuk menyaksikan
    sekaligus menyerahkan piala dan uang pembinaan kepada juara Lomba Kuda
    Lumping (yang diikuti 8 Desa) se Kec. Gemawang. Tidak terasa waktu telah
    menunjukkan jam 17.00 , sehingga kami harus segera kembali ke Temanggung,
    karena malam harinya harus menghadiri acara resepsi di Graha Bumiphala, Kab.
    Temanggung.

    Jam 19.00 WIB, kami berangkat menuju Gedung Graha Bumiphala. Dengan langkah
    sedikit gontai (karena fisik sudah terkuras habis selama 2 hari
    berturut-turut) dan dengan tatapan mata yang semakin sayu, kami melangkahkan
    kaki menuju ke aula Graha Bumiphala untuk memenuhi undangan panitya HUT RI
    ke 63 Kab. Temanggung . Acara yang semula dijadwalkan jam 19.30, ternyata
    molor dan baru dimulai pada jam 20.10 WIB. Beberapa saat setelah kami tiba
    dan memilih tempat duduk di tribun bagian tengah, tiba-tiba Pak Graito dan
    saya diminta untuk bertemu dengan Bupati Temanggung, Bp. Hasyim Afandi.
    Sungguh suatu undangan istimewa tak terduga yang tidak pernah kami bayangkan
    sebelumnya. Kami tidak pernah mengira jika malam itu akan dipertemukan
    dengan Bp. Hasyim Afandi dan Bp. Budiarto (Wabup) beserta seluruh jajaran
    Muspida Kab. Temanggung, dan juga Ketua serta Wakil Ketua DPRD Temanggung,
    yang telah menunggu di bangsal Bumiphala. Mereka menyambut kami dengan salam
    dan peluk persaudaraan. Dalam pertemuan yang cukup akrab itu, kami
    berkesempatan menyampaikan agenda Kadang Peduli IKT 2008, mulai dari A
    sampai Z, dan rupanya mendapat tanggapan yang cukup positif dari Bapak
    Bupati. Akhirnya tepat jam 20.10 WIB kami semua beriringan menuju ke Aula
    Utama Graha Bumiphala, dan langsung dibawa menuju kursi rotan pejabat yang
    telah disediakan dibarisan paling depan (wis jan..jan.. dadi kancilen
    tenan… ora biso obah babarblas …he..he..he..). Sungguh kami tidak pernah
    mengira jika sambutan Bp. Bupati sedemikian besar dan hangatnya kepada kami.

    Resepsi HUT RI ke 63 di Graha Bumiphala diisi dengan berbagai atraksi seni
    dan budaya, diantaranya : Campur Sari , Paduan Suara dari SMAN2 Temanggung,
    Irama Rebana Modern dari Kaloran, Sendratari, Penyerahan Piala dan Uang
    Pembinaan Lomba 17an : Olah Raga, Kebersihan Lingkungan, Lomba Pembayar
    Pajak, dan diakhiri dengan Lawak : Rabies (putranya Gito Gati) dari
    Yogyakarta. Akhirnya tepat jam 23.05 WIB acarapun selesai …

    Dalam perjalan pulang ke rumah, saya sempat merenung, menerawang jauh ke
    angkasa sembari bergumam lirih dalam relung hati … Ya Allah , terimakasih
    untuk semua AnugerahMu yang tidak pernah kami bayangkan, inikah bentuk
    limpahan kemurahanMu yang Kau berikan kepada kami semua disaat mata, raga
    dan pikiran kami dalam kelelahan yang teramat penat…?? Sungguh kami
    teramat kecil dan lemah di hadapanMu … namun kami percaya kepadaMu ya
    Allah, Engkau Maha Adil dan Maha Mengetahui segalanya …

    *Hari ketiga, 18 Agustus 2008 *

    Pagi hari ini, semua acara difokuskan di Desa Muncar, Kec. Gemawang didahului
    dengan upacara bendera di Lapangan Desa Muncar, yang kemudian dilanjutkan
    dengan pertunjukkan kesenian tradisional dari masing-masing dusun yang ada
    di Muncar , seperti : kuda lumping, kubrosiswa dll. Pada kesempatan ini juga
    diserahkan berbagai piala dan uang pembinaan dari IKT untuk para juara lomba
    17an, termasuk lomba lari beregu (5 orang) untuk mengambil bendera merah
    putih, yang ditancapkan di atas Bukit Muncar, dengan hadiah utamanya : uang
    Rp. 500.000 , Piala dan baju (5 buah). Disamping itu, kami juga menyerahkan
    sumbangan buku untuk perpustakaan di Kaloran, Manding dan Tleter.

    Setelah pesta rakyat dan kesenian tradisional di lapangan Desa Muncar
    berakhir, kemudian dilanjutkan dengan peresmian Perpustakaan di SDN 1
    Muncar, yang didahului dengan acara Ramah Tamah antara IKT dengan tokoh
    serta warga Desa Muncar. Acaranya sendiri diisi dengan berbagai sambutan dan
    tarian dari adik-adik SDN 1 Muncar. Akhirnya tepat jam 13.15 WIB,
    Perpustakaan yang diberi nama *’KADANG BINAGKIT’* secara resmi dibuka oleh
    Bp. Graito Usodo , ditandai dengan pengguntingan pita dan peluncuran balon
    udara. Perpustakaan dengan ukuran 7×7 m2 tersebut , diharapkan dapat menjadi
    kawah cradradimukanya warga Muncar dan sekitarnya, terutama dalam memperluas
    cakrawala pandang dan wawasan pengetahuannya, sehingga pada akhirnya
    diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya di Kec.
    Gemawang dan sekitarnya.

    Terlepas dari berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan yang terjadi selama
    kegiatan Kadang Peduli IKT ini, perkenankan kami atas nama panitya Kadang
    Peduli IKT 2008, menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
    semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, dari mulai persiapan hingga
    hari pelaksanaan Kadang Peduli ini dapat terlaksana dengan aman, lancar dan
    sukses.

    Terimakasih yang tidak terhingga juga kami haturkan kepada :

    1. Bp. Drs. H. Hasyim Afandi , Bupati Kepala Daerah , Kab. Temanggung.
    2. Para Donatur Kadang Peduli IKT 2008, yang tidak bisa kami sebutkan
    satu persatu.
    3. Seluruh Panitya Kadang Peduli IKT 2008
    4. Teman –teman FILTRA (Forum Silaturahmi Temanggung Utara)
    5. Bp. Milono, Ketua Dewan Pendidikan Temanggung
    6. Bp. Prof. DR. M. Mustofa
    7. Bp. Prof. DR. Ir. Djumali Mangunwidjaja
    8. Bp. Ir. Haryanto W. Soekoco
    9. Bp. Ari Saptaji
    10. Bp, Hendro Martono, Kepala SMKN 2 Temanggung
    11. Bp. Herman JIS
    12. Ibu Nurul , Koordinator panitya pelaksana di Temanggung
    13. Bp. Purwono , kepala SMKN 1 Maron, Temanggung.
    14. Bp. Iman Setiarso , Camat Gemawang
    15. Bp. Mughiran , Kades Muncar
    16. Bp. Sunaryo, Kepala Sekolah SDN 1 Muncar, Gemawang
    17. Ibu Titiek , Kepala Sekolah SDN 2 Gedong Sari , Jumo
    18. Bp. Sarijo, Ketua Pengurus Pusat Pelatihan Komputer di Kalibanger,
    Gemawang
    19. Tabloid LONTAR
    20. Seluruh panitya pelaksana di Temanggung

    Keberhasilan Kadang Peduli ini merupakan hasil kerja keras dan karya nyata
    bersama dari seluruh Kadang Temanggungan. Karena tanpa dukungan , suport dan
    tentunya do’a dari panjenengan sedoyo, kami bukanlah apa-apa, dan mustahil
    rasanya dapat mewujudkan semua kegiatan ini.

    Tidak lupa kami juga ingin mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
    panjenengan sedoyo, jika dalam pelaksanaan Kadang Peduli IKT 2008 ini, telah
    banyak merepotkan bapak, Ibu, mas, mbak dan adik-adik semua. Semoga niat
    baik dan amal ibadah panjenengan sedoyo, akan mendapatkan berkah dan
    limpahan pahala dari Allah SWT.

    Semoga langkah kecil kami ini, dapat memberikan angin segar bagi perubahan
    yang kita harap dan nantikan di Temanggung serta dapat memicu ide-ide segar
    nan brilian dari semua lapisan warga Temanggung di perantauan tentunya demi
    kemajuan Kota Temanggung tercinta …. semoga …

    Maturnuwun , … sayonara Gemawang … dan sampai jumpa tahun depan 2009 …

    Salam Temanggungan,

    Amik.

    karangturi21.jpg

    ternyata ada wartawan menyelusup dalam acara jumpa pengarang di karangturi beberapa waktu lalu. simak laporannya.

    keliling sekolah

    bulan ini warrior berderap ke sejumlah sekolah.

    selasa (18/3), pelesir ke semarang, mampir di sedes sapientiae dan karangturi, bareng esti kinasih (penulis ‘fairish’, ‘cewek!!!’, ‘still…’, dan yang terbaru ‘dia, tanpa aku’). di sedes, murid-murid sudah menunggu di aula sekolah, dan setelah diperkenalkan guru pembimbing, kami berdua dipersilakan cuap-cuap dan ngobrol dengan murid-murid—tanpa moderator! antusias banget mereka, pertanyaan seputar pengalaman menulis dan proses kreatif.

    di karangturi, ada sedikit miskomunikasi. guru penghubung ternyata belum menyiapkan murid untuk acara ini. jadilah kami menunggu sebentar di perpustakaan yang adem. ketika kuintip sebagian koleksinya, walah… rasanya pengin meringkuk di situ deh. bayangin, buku-buku jadul yang sudah sulit ditemukan di pasar, dan pas dengan setting 80-an warrior, tersimpan rapi di situ. di sudut sebuah rak, misalnya, terselip sekitar 5 seri manja (singkatan dari roman remaja, terbit sebulan sekali, dari majalah hai. sayang, cuma bisa memindai saja, tapi cukup melayang juga baca gaya bahasa jadul yang nyatanya masih berandal—khas arswendo). suasana diskusinya sendiri, pertanyaan-pertanyaannya, mirip dengan di sedes.

    sebelum balik ke jogja, crew gpu semarang mengajak mampir ke mbah jingkrak dan beli oleh-oleh: lunpia dan wingko babat jl. mataram. aku pilih lunpia mentah, biar nanti digoreng di rumah saja. (dan ternyata rasanya emah sedap-padat-berisi).

    oya, perjalanan jogja-semarang kutempuh dengan bus joglosemar yang nyaman. itu pertama kali menjajal bus pariwisata itu.

    lalu, rabu (26/3), singgah ke stella duce 2 (stero–stece loro?). di jogja tentu. pembicara lainnya j. sumardianta, guru de britto dan penulis resensi, serta penulis teenlit ‘will you marry me?’, fatma sudiastuty octaviani dari boyolali.

    guru bahasa indonesia stece 2 ternyata menyiapkan acara ini sebagai ‘kuliah umum’ bagi siswa kelas 11. hehe, yang siap makalah cuma pak mardianta. aku dan fatma cukup membawa diri.

    nah, dari pak guru bahasa indonesia itu (pak yoto? nuwun sewu, pak, tidak mengingat perkenalan dengan baik) ada masukan, mestinya buku yang mau dibahas sudah disosialisasikan di sekolah beberapa hari sebelumnya. jadi murid sudah bisa beli (dengan harga diskon tentu), baca, dan menyiapkan pertanyaan relevan. jadi, pas acara, pertanyaan bisa lebih mengenai sasaran, lalu mereka yang punya buku, atau beli saat itu, bisa minta tanda tangan pengarang.

    wah, sebagai pengarang, aku tentu mengaminkan usulan pak guru tadi!

    dilirik kawanku

    jalan-jalan ke togamas gale, membuka-buka kawanku (no. 8, 25 februari - 2 maret 2008) yang tak disampul, kutemukan komentar tentang warrior:

    … Ini adalah buku yang benar-benar bagus dan sarat dengan pesan kemanusiaan.

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.