Feed on
Posts
Comments

karangturi21.jpg

ternyata ada wartawan menyelusup dalam acara jumpa pengarang di karangturi beberapa waktu lalu. simak laporannya.

keliling sekolah

bulan ini warrior berderap ke sejumlah sekolah.

selasa (18/3), pelesir ke semarang, mampir di sedes sapientiae dan karangturi, bareng esti kinasih (penulis ‘fairish’, ‘cewek!!!’, ’still…’, dan yang terbaru ‘dia, tanpa aku’). di sedes, murid-murid sudah menunggu di aula sekolah, dan setelah diperkenalkan guru pembimbing, kami berdua dipersilakan cuap-cuap dan ngobrol dengan murid-murid—tanpa moderator! antusias banget mereka, pertanyaan seputar pengalaman menulis dan proses kreatif.

di karangturi, ada sedikit miskomunikasi. guru penghubung ternyata belum menyiapkan murid untuk acara ini. jadilah kami menunggu sebentar di perpustakaan yang adem. ketika kuintip sebagian koleksinya, walah… rasanya pengin meringkuk di situ deh. bayangin, buku-buku jadul yang sudah sulit ditemukan di pasar, dan pas dengan setting 80-an warrior, tersimpan rapi di situ. di sudut sebuah rak, misalnya, terselip sekitar 5 seri manja (singkatan dari roman remaja, terbit sebulan sekali, dari majalah hai. sayang, cuma bisa memindai saja, tapi cukup melayang juga baca gaya bahasa jadul yang nyatanya masih berandal—khas arswendo). suasana diskusinya sendiri, pertanyaan-pertanyaannya, mirip dengan di sedes.

sebelum balik ke jogja, crew gpu semarang mengajak mampir ke mbah jingkrak dan beli oleh-oleh: lunpia dan wingko babat jl. mataram. aku pilih lunpia mentah, biar nanti digoreng di rumah saja. (dan ternyata rasanya emah sedap-padat-berisi).

oya, perjalanan jogja-semarang kutempuh dengan bus joglosemar yang nyaman. itu pertama kali menjajal bus pariwisata itu.

lalu, rabu (26/3), singgah ke stella duce 2 (stero–stece loro?). di jogja tentu. pembicara lainnya j. sumardianta, guru de britto dan penulis resensi, serta penulis teenlit ‘will you marry me?’, fatma sudiastuty octaviani dari boyolali.

guru bahasa indonesia stece 2 ternyata menyiapkan acara ini sebagai ‘kuliah umum’ bagi siswa kelas 11. hehe, yang siap makalah cuma pak mardianta. aku dan fatma cukup membawa diri.

nah, dari pak guru bahasa indonesia itu (pak yoto? nuwun sewu, pak, tidak mengingat perkenalan dengan baik) ada masukan, mestinya buku yang mau dibahas sudah disosialisasikan di sekolah beberapa hari sebelumnya. jadi murid sudah bisa beli (dengan harga diskon tentu), baca, dan menyiapkan pertanyaan relevan. jadi, pas acara, pertanyaan bisa lebih mengenai sasaran, lalu mereka yang punya buku, atau beli saat itu, bisa minta tanda tangan pengarang.

wah, sebagai pengarang, aku tentu mengaminkan usulan pak guru tadi!

dilirik kawanku

jalan-jalan ke togamas gale, membuka-buka kawanku (no. 8, 25 februari - 2 maret 200 8) yang tak disampul, kutemukan komentar tentang warrior:

… Ini adalah buku yang benar-benar bagus dan sarat dengan pesan kemanusiaan.

yup, maret ini “warrior” terpajang sebagai “my pick of this month” di situs resmi sitta karina. komentarnya singkat, tapi bikin dada mekar:

Akhirnya ada juga teenlit yang berlatar belakang budaya Indonesia , khususnya Jawa, seperti yang Arie buat. Istilah-istilahnya sempat membuat saya bingung (karena memang tidak bisa berbahasa Jawa), tapi itu nggak menghentikan saya dari membaca karya anak negeri yang saya beri label ‘BRILIYAN’. Mari belajar tentang kerja keras, kesederhanaan hidup, pencarian jati diri yang berharga dari novel penuh warna ini. Jangan meminjam di perpustakaan atau dari teman, buku ini sangat layak untuk dikoleksi!

Big thank, Sitta!

resensi dari bogor

Poppy D. Chusfany, penulis The Bookaholic Club yang spooky itu, berkomentar untuk Sri:

Tanggal 21 Februari kemarin gue diundang GPU untuk acara talkshow di toko buku Gramedia Botani Square Bogor, dan untuk kedua kalinya gue ketemu Mas Arie Saptajie, yang kali ini juga ikut mempromosikan teenlit terbarunya berjudul “Warrior: Sepatu untuk Sahabat”. Langsung dong nodong tandatangan sama penulisnya.

Setiba di rumah gue langsung baca (sayangnya nggak bisa selesai dalam satu hari karena kerjaan gue masih menumpuk). Baru baca setengah buku aja, beberapa kalimat dan gaya bertutur Mas Arie udah bikin gue meleleh. Yup, Mas Arie piawai sekali menggambarkan situasi dan mendeskripsikan sesuatu, yang jadi kelemahan gue dalam bertutur kisah selama ini.

Salah satu kalimat deskripsi yang jadi favorit gue adalah ini: “Bunyi air yang menetes-netes di ceruk gua dan menggemericik di sepanjang sungai kecil, ditingkahi cericit burung di balik dahan pohon-pohon yang rindang, merengkuh mereka dalam atmosfer yang adem, purba, dan misterius.”
Menurut gue, untuk bacaan berlabel teenlit, buku Mas Arie ini sungguh luar biasa. Selain bahasanya indah, tokoh Sri dalam buku ini juga bukan seperti tokoh2 kebanyakan di teenlit lain. Sri anak seorang bakul lopis, hidup sederhana cenderung kekurangan, tekadnya dan akhlaknya sungguh terpuji. Kisah Sri sederhana sekali. Hanya masalah dia nggak punya uang untuk beli sepatu Warrior, merk yang sedang ngetop pada tahun 80-an.

Bagi remaja tahun 80-an (seperti gue, tentunya, tau kan umur gue berapa?) pasti banyak sekali kejadian di buku ini yang bakal jadi nostalgia. Ngeri mendengar berita tentang Petrus, gerhana matahari total, peluncuran Discovery, dan lain-lain, termasuk betapa ngetopnya sepatu Warrior zaman gue SMP/SMA dulu.

Banyak pengalaman Sri yang bisa gue samakan dengan pengalaman gue dulu. Sepatu yang bolong (meski sepatu Sri bolong di kelingking sedangkan sepatu gue bolong di jempol) hanyalah salah satunya. Gue juga ‘anak gunung’ yang berasal dari keluarga menengah, sehingga beli sepatu cuma bisa setahun sekali. Seperti Sri, gue pernah jadi anggota pasukan gerak jalan yang bakal ikut lomba dan masalah yang sama terjadi pada gue juga: sepatu bolong. Karena memang belum tiba waktunya untuk minta ‘jatah preman’ ke ortu, gue sempet bingung dari mana duit buat beli Warrior baru? Yup, sepatu itu pula yang dinobatkan jadi sepatu seragam untuk gerak jalan zaman gue SMP dulu. Karena dulu gue rajin bikin kartu ucapan, gue bikin lah banyak2 dan gue jual ke temen2 sekolah. Hasilnya, uang 8000 perak bisa buat beli sepatu Warrior! Memang sih, beberapa ribu rupiah akhirnya nodong ke ortu buat nambahin, tapi tetep ortu gue senang karena gue mau usaha sendiri.

Gerhana matahari total, seperti pengalaman Sri, waktu itu banyak yang ketakutan dan malah mengurung diri di rumah. Tapi alhamdulillah, ortu gue malah ngajak anak2 mereka langsung berangkat ke Borobudur khusus buat menyaksikan peristiwa alam seumur hidup ini. Ya mana ada orang yang hidup sampe usianya 400 tahun? Sampe gerhana matahari total berikutnya? Situasi yang digambarkan Mas Arie di buku ini betul2 persis seperti yang gue alamin di Borobudur. Dan adik gue pake acara nangis segala karena tiba2 bumi jadi gelap gulita di siang bolong…hehehe.

Cara bertutur Mas Arie yang menggunakan beberapa istilah Jawa juga familier, meski yang gue pakai adalah bahasa Sunda. Di kota kecil macam Bogor (seperti di Ngadirejo, Temanggung, tempat kisah Sri terjadi) orang2 bicara dengan bahasa daerah. Campur2 lah dengan bahasa Indonesia. Yang nggak bisa bahasa Jawa nggak perlu khawatir, karena di halaman belakang ada glosari.

Benar kan? Bahasa yang indah dan baik bukan hanya untuk karya sastra dewasa. Sebuah teenlit pun bisa dinikmati dengan gaya bertutur yang apik. Kisahnya memang sederhana, emosi pembaca memang tidak dibuat naik-turun drastis, tapi ini betul2 bacaan yang layak dinikmati remaja sekarang maupun ‘mantan’ remaja tahun 80-an. Kisah Sri adalah kisah kita semua, masalahnya betul2 bersahaja dan bisa kita temui di kejadian sehari-hari. Yang sangat jarang gue temui adalah sebuah teenlit yang cara berceritanya bisa bikin gue meleleh seperti ini.

Kudos, Mas Arie! Empat bintang dari lima untuk buku ini.

Matur nuwun sanget, Poppy!

Nah, tanggapan di blog-nya membicarakan untung-ruginya pelabelan karya (teenlit, chicklit, dsb). Simak!

oleh-oleh dari jakarta

datang ke jakarta hanya membawa diri, pulang-pulang membawa setumpuk buku dan aneka suvenir. karena belum punya kamera digital, rekaman perjalanan kucomot dari situs sejumlah rekan.

>> Video ‘loncing’ tak resmi di Pesta Apresiasi Sastra 2008 (big thanks, Indah! apalagi namaku dapat bonus -had- hehe…)

>> Foto-foto Pesta Apresiasi Sastra 2008 (thanks juga Olin!)

>> Foto-foto di Bogor silakan disimak di Flickr.

keliling jakarta

selain memeriahkan pas 2008, warrior juga akan mampir ke beberapa tempat:

Binus Book Fair
Selasa, 19 Februari 2008
Pkl. 11.00 — 14.00 WIB
Binus Kampus Anggrek
Jl. Kebun Jeruk Raya No. 27
Jakarta Barat
(lihat peta)

Jumpa Pengarang Teenlit
Kamis, 21 Februari 2008
Pkl. 16.00 - selesai
Gramedia Botani Square
Bogor

warrior di pas 2008

warrior mendapat kehormatan menjadi salah satu pengisi pesta apresiasi sastra 2008. karena rangkaian acaranya keren-keren, lebih baik siap di tempat sejak awal deh!

berikut ini woro-woro dari ketuplak-nya:

[PAS 2008] Ayo Datang ke Pesta Apresiasi Sastra 2008!

dear apsasians,

ajang silaturahmi anggota apsas akan segera digelar. nama kerennya: pesta apresiasi sastra 2008. catat waktu dan tempatnya ya!

sabtu, 16 februari 2008
pukul 10.00 - 17.00
di japan foundation
gedung summitmas 1 lantai 2
jalan sudirman
jakarta

untuk merayakan ulang tahun ketiga apsas, kita akan sama-sama menyaksikan acara tiup lilin plus potong kue. sebagai orang indonesia, gak sip dong kalau nggak potong tumpeng juga.

nah, jangan sampai terlambat datang ya? soalnya, pagi-pagi, Pak Danarto akan menjamu kita dengan monolog “Keluh Kesah Apel Newton”. Pak Danarto kesohor dengan kumpulan cerpennya, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982.

lalu, ada diskusi buku Norwegian Wood karya Haruki Murakami dengan pembicara tamu Prof. Bambang Wibawarta dari UI. selain norwegian wood, karya murakami yang sudah diindonesiakan adalah kafka on the shore. di sela-sela diskusi akan ada penyajian musik beatles yang banyak dibahas di norwegian wood.

artis apsas (BK) dan the classroom juga akan hadir menyuguhkan musikalisasi puisi, monolog Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan), dan pentas teater Perempuan Kembang Jepun (Lan Fang).

belum lagi diskusi penerjemahan dan penelitian sastra yang menghadirkan Shiho Sawai, peneliti jepang yang sedang mukim di yogyakarta.

masih ada lagi peluncuran novel warrior (arie saptaji) dan hudan hidayat. oh ya, nanti ada juga pembacaan puisi dari rekan-rekan apsas.

di penghujung acara, akan ada pembagian hadiah lomba yang digelar dalam rangka ultah apsas ketiga. tapi, apsasian yang tidak mengikuti lomba tak perlu kuatir, sebab sepanjang acara akan ada pembagian doorprize. apa saja doorprizenya? lihat posting terbaru mbak indah dong..

oh ya, yang tak kalah penting, mc hajatan kita didatangkan langsung dari bandung. dosen dan perupa ini terkenal dengan novel-novelnya, Fetussaga, Rakkaustarina, Louisiana-Louisiana, Epigram, dan Dong Mu. nah, siapa lagi kalau bukan mang jamal? nanti, mang jamal akan didampingi oleh mbak tiur yang seru dan menggelegar.

menarik bukan? nah, supaya semua kebagian makan siang, jangan lupa daftarkan kehadiran apsasian dengan cara:

klik dan isi formulir di bawah ini

http://www.surveymonkey.com/s.aspx?sm=IGE8pYQLzc_2fDfbuWdPhRrA_3d_3d

salam ultah,

rita

frahma alamiarso berkomentar di milis kadang_temanggungan. kutipannya:

Mas Arie,

Saya sudah baca novel anda, “Sepatu untuk sahabat” *(cover dalam file
attachment)* , dan kesan yang tersirat dalam benak saya adalah bahwa alur
ceritanya amat dinamik, terutama dalam perpindahan dari satu topik ke pokok bahasan yang lainnya. Juga sarat dengan berbagai kutipan kisah-kisah heroik yang dapat dijadikan tauladan bagi yang membacanya. Memang agak sedikit “mbulet” namun terasa sangat unik dan mengasyikkan. Seolah-olah kita dibawa pada masa-masa remaja kita, bern*ostalgia sejenak di era SMP kita, dimana begitu banyak cerita, yang indah dan lucu**,** di Kota Temanggung tersayang.
***

*Hanya satu yang masih mengganjal dan membuat penasaran saya, mengapa
diakhir ceritanya sendiri koq sepertinya menjadi “antiklimak” ya , tidak
seperti harapan pembaca ? (dimana harapannya SMPN Ngadirejo menjadi juara 1 lomba gerak jalan ??), atau memang arti sebuah kemenangannya terletak pada keberhasilan Sri memperoleh sepatu warrior baru dan permintaan maaf dari Titin ? Tentunya hanya mas Arie yang tahu …. (he..he..he…). *

matur nuwun sanget, mas amik!

seorang kawan di milis lapanpuluhan berkomentar:

MAS ARIE SAPTAJI …
Sampun mas … Bukunya aku sudah samber kemarin … aku beli di
Gramedia PI …
Maksudnya sih aku mau beliin untuk anak ku yang kelas 8 lelaki …
ternyata dia kurang merespon … karena katanya ada Teenlitnya …
(dia bilang .. Ayah .. ini mah novel cewek ..)(gluk aku
speechless …)

Akhirnya aku berencana akan memberikannya kepada keponakannku yang
perempuan … (yang juga macan buku …)

Tetapi terlebih dahulu akan aku baca dulu dong sampe abis … gak
mau rugi …hihihi
Mas Arie … ada kalimat yang aku sangat suka di bab-bab
awal … “Sri duduk terdiam di dipan bambu kamarnya. Kamar itu
bukanlah bagian dari rumahnya; Kamar itulah seluruh rumahnya …”

Adu itu kalimat .. getir sekali mas …
Aku seneng membacanya Mas
Sukses ya …

(sengaja aku nggak reply di Japri ..)(supaya yang lain juga
mengetahui bahwa kita punya teman seorang penulis yang paten di
milis ini ..)
Swer ini buku yang “agak lain”

Regards
The CapsLock

Older Posts »