lebaran tahun ini, seperti biasa, kami sekeluarga mudik lagi. hanya saja, kali ini selain silaturahmi dengan keluarga dan kerabat, ada agenda lain: menunjukkan lokasi yang menjadi latar cerita warrior kepada wawan, yang tertarik membuat cergamnya.
untuk tugas akhirnya di isi yogyakarta, wawan mengajukan dua proposal, cergam berdasarkan warrior dan cergam sejarah gbi generasi baru. ternyata, yang diterima dosennya cergam gbi. “tapi, warrior tetap kubuat cergamnya kok, mas. pengin soalnya,” kata pria yang mengaku nggak pernah baca teenlit, tapi nangis empat kali saat membaca naskah warrior itu.
jumat (12/10) pagi kami meluncur dengan mobil putih, dengan shane sebagai sopir, wawan, hemy, dan tiga anak musik isi (jodi, david, mutiara) sebagai pengiring. syukurlah, jalan lumayan sunyi karena sebagian umat muslim sudah solat id.
sesampai di temanggung, kami menyempatkan mampir di alun-alun, tempat berlangsungnya lomba gerak jalan. tentu saja sudah banyak perubahan di situ. di sebelah utara sekarang ada pendapa besar, dan sekeliling alun-alun ada jalan setapak, untuk naik becak-becakan dan mobil-mobilan. pagi itu suasana masih sepi.
sepanjang perjalanan berikutnya, aku berusaha mencari-cari kalau ada rigen di pinggir jalan untuk kutunjukkan pada wawan. sayang, saat itu musim jemur tembakau sudah lewat sehingga sulit menemukannya. untunglah, saat kuberi tahu kalau rigen juga biasa dipakai untuk menjemur rengginang dan karak (makhluk apa pula itu?), dia jadi paham!
kami lalu singgah dulu ke tempat mbak indri, kakakku di nggagaran, lalu naik ke jumprit. kami mengajak dian, anak bungsu kakakku, ikut. yuda, anak fotografi isi, yang ternyata tetangga sebelahku (masa smp dulu aku dan kawan-kawan suka potret di studio ayahnya!), menunggu di perempatan carikan.

kami sengaja membawa nasi kotak karena ingin menikmatinya di bawah derai pohon-pohon pinus. matahari sudah tinggi, tapi panasnya tak menyengat. kami bisa asyik berpotret ria sambil mengamati pemandangan sekitar, baru kemudian turun ke mata air jumprit dan makam pangeran singonegoro dan istrinya. yang mengagetkan, monyetnya (konon keturunan ki dipo!) sudah beranak-pinak banyak sekali – mirip tikus! padahal, dulu rasanya baru dua tiga ekor.
turun dari jumprit, kami makan siang lagi di rumah kakakku! lalu, kami diantar ke rumah bapak, melewati gedung irama tempat sri nonton wayang wong. wah, rumah bapak ternyata baru terpilih sebagai juara rumah sehat sekecamatan ngadirejo. lalu, kepala desa ngadirejo sekarang dijabat oleh burhan, temanku semasa smp-sma. walah!
di sana, wawan kutunjukkan rumah yang kubayangkan sebagai rumah sri, smp negeri (sekarang smp negeri 1) ngadirejo, kebun klengkeng yang sudah lenyap menjadi sejumlah rumah, sampai ke ‘rumah’ lisa. selanjutnya, kami menengok lapangan ngaren, yang sudah berubah jadi terminal. di sebelahnya ada lapangan yang mirip dengan lapangan terdahulu, namun ukurannya lebih kecil. kami juga menyusuri lintas ngaren-mangunsari, lalu menengok gedung balai desa (tempat titin nonton nehi-nehi), yang sudah berubah sosoknya, dan stanplat dan pasar, yang juga sudah berubah banyak.
tentu saja naskah warrior kuserahkan satu pada bapak — kisah itu memang kutulis untuknya. kuminta kalau sudah selesai membacanya, bisa menuliskan masukan. satu salinan naskah lagi kuberikan pada mbak nunuk, kakakku yang memberi info soal perkiraan harga sepatu warrior dan biaya operasi usus buntu pada zaman itu.
sabtu (13/10) kami keliling bersilaturahmi ke purbosari, candiroto, dan karanggedong. minggu (14/10) kami kembali ke rumah mbak indri. kali ini lengkap ada pak ranto dan dini. pak ranto dulu guru smp negeri ngadirejo, tapi sekarang sudah menjadi kepala sekolah di smpn bejen (lain kecamatan). ia antusias membantu promosi saat mendengar soal naskahku. dan, ia menyodorkan menarik, untuk nama-nama guru dan pegawai sekolah, kenapa tidak memakai nama asli saja — ada yang sudah pensiun, ada yang sudah pindah ke kota lain, namun sebagian masih menjadi pengajar di sana. jadi, selain sebagai dokumentasi, juga akan lebih membangkitkan sense of belonging, alias lebih memudahkan untuk membujuk mereka ikut membeli. hehe, taktik promosi rupanya!
begitulah, kulakukan perubahan kecil lagi di sana-sini. nah, nama-nama siapa saja yang akan muncul dalam teenlit itu? tunggu tanggal terbitnya!









Mas Ari, narasi ini kelihatannya sederhana namun amat memikat, bagai dongeng modern. Tuturannya amat lancar, mengalir dengan daya hanyut yang membuai imajinasi.
wah mas ari ki pie to… aku nangis ko ditulis neng ngeBLOG…
kan yo isin…hahaha…akhirnya telur itu pecah juga…haha ra tau moco novel,moco pisan ndleler… Oalahh….ndadak nganggo nangis barang to Wan!!! tapi Novel,e Mas Ari TOP MARKOTOP kok…lha aku sampe nangiZ jee…. (ko bisa ya??)Sri..i love u.Two thumbs up Mas!!
Bagus mas ada ya ngangkat crita kekayaan ngadirejo saya salut…dan ada tmbhan dikit mas wali limbungnya kpn2 wat novel ya..pemandian endong,candiperot,pemandian tloyo..dan konon diatas pemandian tloyo di seberang ditemukan stupa2 kecil di dlm tanah..mungkin ini mungkin lho kalo di garuk lbh dlm lagi bisa di temukan lebih bnyak lagi
wah, begitu denger kata ‘ngadirejo’ dadi pengin komentar nih, meski rada-rada ‘telat nangkap’ opo iki????
sy sbenarnya bukan pembcasetia novel, mungkin bisa dihitung dengan jari sblh tangan saja novel yang sdh saya baca. yang terakhir “menggapai Matahari” (dengan sedikit paksaan sblm bikin desain cover biar menghayati) karena kebetulan temen yang nulis.
tentang seorang anak transmigran di medan yang sekolah dari smp sd meraih gelar sarjananya dengan hasil keringat sendiri, dan dia satu2nya orang di kampungnya di medan yang punya titel sarjana. Pesan yang disampaikan bagus mas, relevan dengan keadaan adik-adik kita skarang, yaitu semangat belajar yang perlu di tumbuhkembangkan lagi.
Pokoke saya rekomendasikan buat temen2, adik2, guru2 yang mau nge-charge lagi semanagat belajarnya…. baca-baca-baca.
Buat mas erwan sang pengantin baru, moga laris bisnis optiknya…..hehehe….
nyong krungu NGADIREJO dadi kelingan jaman ndugal…eling jaman pacaran nek pinus an jumprit…duh gusti nyuwun doyo kekiatan mugo2 saiki aku adoh kr bumi kelahiran ku mbesuk aku mulih iso melu mbangun tanah kelahiran(MANGGUNSARI SOBAHAN) …ora kroso wes meh 7 thn ora weruh kawasan NGADIREJO…wes meh 7 thn ora njajan MIE AYAM PATOK JUMO pak kadar rejosari….NGADIREJO TUNGGU AKU DI THN 2010….saiki aku ijeh rekoso nek luar negeriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………aduwhhhhhhhhhh
waduh, aku dadi kangen ro ngomah ki… pengin cepet mulih ng ngadirjo… tapi isih desember sesuk….eh kapan kuwi teenlit rampung…. pengin banget lho
aku asli wong josari, aku matur nuwun bgt saiki ono komunitas wong ngadirejo.aku kangen banget karo omah ( jangan tahu ) salam kango keluarga nang omah ( bundaku aku kangen banget )
whooa..
niki komunitas wong ngadirejo nggih?
jan mboten pangling kalih daerah2 sing disebut. . .
mz ari,niku teenlitè trbit kpan?
settingè ngadirejo nggih?
sbg wong ngadirejo,tepatnya rejosari ngisor tower,
kudu baca ah klo emang ngadirejo banget. . . .
untung banget aku cuma sekolah di Magelang jadi tasih gampang mulih. . .hehe.
CAH NGGANEN.
NGADIREJO PANCEN BENER-BENER EDI LAN REJEH ALIAS RAME. HIDUP NGADIREJO………………………………………………
WAH ! WAH ! WAH!…, nyong dadi kangen karo ngadirejo. mas ARI, kenalke nek nyong kiye asli KUDUS JAMBU BOL wongtuo nyong boro ke Ngadirejo sak-durunge kless ke satu Londo. Nyong kelahiran Ngadirejo tahun 1955 desa Manggong gondang ngisor ninggalake Ngadirejo kiro – kiro tahun 1967 ke JAKARTA 1979 sak durunge aku di solo.
waduh..pados2 wonten mbah google,kula nemu kata NGADIREJO..
kula lare asli NGADIREJO mas,griyanipun DEMANGAN,caket kaliyan SMPN 1 NGADIREJO ingkang dados slh setunggale setting teenlit’e ms ari..
wah,remen sanget raose lair lan ageng ting NGADIREJO,nggih ambo’o sakniki kula kuliah wonten Bandung,nanging plg kula remen menawi wekdale prei lan wangsul ting NGADIREJO..
pokoke,kula dukung sanget kagem kelancaran pembuatan teenlit’e ms ari..
nang Weleri tuku Kathok…..Jan isine Ngeri thok…..
nyong yo wong Ngadirejo Mas?Deso pualing wetan dhewe yoiku Gaden Gandu Wetan,perbatasan karo Dsn Pranggongan Ds Moro Bongo Kec. Jumo.lha lebaran sesuk podo kopda priye…..?
Pak ranto hehe,
Pak saroji guru matematika smp1,
Tahu bakso..
As. Wr. Wb
Ngadirejo…ruwet pasarnya yg selalu bikin pengen nongkrong sambil nonton pasar manuk. Gedong Irama yg tetap gagah walau sekarang kayaknya jadi gudang. 2 taun aku ora muleh, rasane koyo wis puluhan tahun. TQ konco-konco lumayan terobati kangennya. Salam buat Pak Kades mas Burhan
Btw, salut untuk mas, konco2X yg udah ngenalin Ngadirejo di kancah internetan, nyong ki gaptek jarang moco informasi jadi gak ngikutin perkembangan.
Salam buat konco yg udah komentar, sy pasti kenal…Ngadirejo walau cukup luas tapi enyong sangat kenal detil-detilnya. Love SMP 1, saya alumni and mantan Ka. OSIS 86-an lah. Pareeeeng. Wass