keliling sekolah
March 28, 2008 by sepatuwarrior
bulan ini warrior berderap ke sejumlah sekolah.
selasa (18/3), pelesir ke semarang, mampir di sedes sapientiae dan karangturi, bareng esti kinasih (penulis ‘fairish’, ‘cewek!!!’, ’still…’, dan yang terbaru ‘dia, tanpa aku’). di sedes, murid-murid sudah menunggu di aula sekolah, dan setelah diperkenalkan guru pembimbing, kami berdua dipersilakan cuap-cuap dan ngobrol dengan murid-murid—tanpa moderator! antusias banget mereka, pertanyaan seputar pengalaman menulis dan proses kreatif.
di karangturi, ada sedikit miskomunikasi. guru penghubung ternyata belum menyiapkan murid untuk acara ini. jadilah kami menunggu sebentar di perpustakaan yang adem. ketika kuintip sebagian koleksinya, walah… rasanya pengin meringkuk di situ deh. bayangin, buku-buku jadul yang sudah sulit ditemukan di pasar, dan pas dengan setting 80-an warrior, tersimpan rapi di situ. di sudut sebuah rak, misalnya, terselip sekitar 5 seri manja (singkatan dari roman remaja, terbit sebulan sekali, dari majalah hai. sayang, cuma bisa memindai saja, tapi cukup melayang juga baca gaya bahasa jadul yang nyatanya masih berandal—khas arswendo). suasana diskusinya sendiri, pertanyaan-pertanyaannya, mirip dengan di sedes.
sebelum balik ke jogja, crew gpu semarang mengajak mampir ke mbah jingkrak dan beli oleh-oleh: lunpia dan wingko babat jl. mataram. aku pilih lunpia mentah, biar nanti digoreng di rumah saja. (dan ternyata rasanya emah sedap-padat-berisi).
oya, perjalanan jogja-semarang kutempuh dengan bus joglosemar yang nyaman. itu pertama kali menjajal bus pariwisata itu.
lalu, rabu (26/3), singgah ke stella duce 2 (stero–stece loro?). di jogja tentu. pembicara lainnya j. sumardianta, guru de britto dan penulis resensi, serta penulis teenlit ‘will you marry me?’, fatma sudiastuty octaviani dari boyolali.
guru bahasa indonesia stece 2 ternyata menyiapkan acara ini sebagai ‘kuliah umum’ bagi siswa kelas 11. hehe, yang siap makalah cuma pak mardianta. aku dan fatma cukup membawa diri.
nah, dari pak guru bahasa indonesia itu (pak yoto? nuwun sewu, pak, tidak mengingat perkenalan dengan baik) ada masukan, mestinya buku yang mau dibahas sudah disosialisasikan di sekolah beberapa hari sebelumnya. jadi murid sudah bisa beli (dengan harga diskon tentu), baca, dan menyiapkan pertanyaan relevan. jadi, pas acara, pertanyaan bisa lebih mengenai sasaran, lalu mereka yang punya buku, atau beli saat itu, bisa minta tanda tangan pengarang.
wah, sebagai pengarang, aku tentu mengaminkan usulan pak guru tadi!








Terima kasih atas kesediannya memberikan “kuliah umum” di Stero. Kalau ada buku baru yang akan didiskusikan, kami akan sangat senang sekali jika anak-anak kami mendapat kesempatan pertama untuk mengapresiasinya. Oya, usul. Bagaimana kalau di webblog ini juga disharingkan hal-hal lain seperti tips berkarya, atau hal-hal lainnya yang bisa menambah khasanah sumber pembelajaran dari praktisi. Terima kasih.