Feeds:
Posts
Comments

keliling jakarta

selain memeriahkan pas 2008, warrior juga akan mampir ke beberapa tempat:

Binus Book Fair
Selasa, 19 Februari 2008
Pkl. 11.00 — 14.00 WIB
Binus Kampus Anggrek
Jl. Kebun Jeruk Raya No. 27
Jakarta Barat
(lihat peta)

Jumpa Pengarang Teenlit
Kamis, 21 Februari 2008
Pkl. 16.00 – selesai
Gramedia Botani Square
Bogor

warrior di pas 2008

warrior mendapat kehormatan menjadi salah satu pengisi pesta apresiasi sastra 2008. karena rangkaian acaranya keren-keren, lebih baik siap di tempat sejak awal deh!

berikut ini woro-woro dari ketuplak-nya:

[PAS 2008] Ayo Datang ke Pesta Apresiasi Sastra 2008!

dear apsasians,

ajang silaturahmi anggota apsas akan segera digelar. nama kerennya: pesta apresiasi sastra 2008. catat waktu dan tempatnya ya!

sabtu, 16 februari 2008
pukul 10.00 – 17.00
di japan foundation
gedung summitmas 1 lantai 2
jalan sudirman
jakarta

untuk merayakan ulang tahun ketiga apsas, kita akan sama-sama menyaksikan acara tiup lilin plus potong kue. sebagai orang indonesia, gak sip dong kalau nggak potong tumpeng juga.

nah, jangan sampai terlambat datang ya? soalnya, pagi-pagi, Pak Danarto akan menjamu kita dengan monolog “Keluh Kesah Apel Newton”. Pak Danarto kesohor dengan kumpulan cerpennya, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982.

lalu, ada diskusi buku Norwegian Wood karya Haruki Murakami dengan pembicara tamu Prof. Bambang Wibawarta dari UI. selain norwegian wood, karya murakami yang sudah diindonesiakan adalah kafka on the shore. di sela-sela diskusi akan ada penyajian musik beatles yang banyak dibahas di norwegian wood.

artis apsas (BK) dan the classroom juga akan hadir menyuguhkan musikalisasi puisi, monolog Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan), dan pentas teater Perempuan Kembang Jepun (Lan Fang).

belum lagi diskusi penerjemahan dan penelitian sastra yang menghadirkan Shiho Sawai, peneliti jepang yang sedang mukim di yogyakarta.

masih ada lagi peluncuran novel warrior (arie saptaji) dan hudan hidayat. oh ya, nanti ada juga pembacaan puisi dari rekan-rekan apsas.

di penghujung acara, akan ada pembagian hadiah lomba yang digelar dalam rangka ultah apsas ketiga. tapi, apsasian yang tidak mengikuti lomba tak perlu kuatir, sebab sepanjang acara akan ada pembagian doorprize. apa saja doorprizenya? lihat posting terbaru mbak indah dong..

oh ya, yang tak kalah penting, mc hajatan kita didatangkan langsung dari bandung. dosen dan perupa ini terkenal dengan novel-novelnya, Fetussaga, Rakkaustarina, Louisiana-Louisiana, Epigram, dan Dong Mu. nah, siapa lagi kalau bukan mang jamal? nanti, mang jamal akan didampingi oleh mbak tiur yang seru dan menggelegar.

menarik bukan? nah, supaya semua kebagian makan siang, jangan lupa daftarkan kehadiran apsasian dengan cara:

klik dan isi formulir di bawah ini

http://www.surveymonkey.com/s.aspx?sm=IGE8pYQLzc_2fDfbuWdPhRrA_3d_3d

salam ultah,

rita

frahma alamiarso berkomentar di milis kadang_temanggungan. kutipannya:

Mas Arie,

Saya sudah baca novel anda, “Sepatu untuk sahabat” *(cover dalam file
attachment)* , dan kesan yang tersirat dalam benak saya adalah bahwa alur
ceritanya amat dinamik, terutama dalam perpindahan dari satu topik ke pokok bahasan yang lainnya. Juga sarat dengan berbagai kutipan kisah-kisah heroik yang dapat dijadikan tauladan bagi yang membacanya. Memang agak sedikit “mbulet” namun terasa sangat unik dan mengasyikkan. Seolah-olah kita dibawa pada masa-masa remaja kita, bern*ostalgia sejenak di era SMP kita, dimana begitu banyak cerita, yang indah dan lucu**,** di Kota Temanggung tersayang.
***

*Hanya satu yang masih mengganjal dan membuat penasaran saya, mengapa
diakhir ceritanya sendiri koq sepertinya menjadi “antiklimak” ya , tidak
seperti harapan pembaca ? (dimana harapannya SMPN Ngadirejo menjadi juara 1 lomba gerak jalan ??), atau memang arti sebuah kemenangannya terletak pada keberhasilan Sri memperoleh sepatu warrior baru dan permintaan maaf dari Titin ? Tentunya hanya mas Arie yang tahu …. (he..he..he…). *

matur nuwun sanget, mas amik!

seorang kawan di milis lapanpuluhan berkomentar:

MAS ARIE SAPTAJI …
Sampun mas … Bukunya aku sudah samber kemarin … aku beli di
Gramedia PI …
Maksudnya sih aku mau beliin untuk anak ku yang kelas 8 lelaki …
ternyata dia kurang merespon … karena katanya ada Teenlitnya …
(dia bilang .. Ayah .. ini mah novel cewek ..)(gluk aku
speechless …)

Akhirnya aku berencana akan memberikannya kepada keponakannku yang
perempuan … (yang juga macan buku …)

Tetapi terlebih dahulu akan aku baca dulu dong sampe abis … gak
mau rugi …hihihi
Mas Arie … ada kalimat yang aku sangat suka di bab-bab
awal … “Sri duduk terdiam di dipan bambu kamarnya. Kamar itu
bukanlah bagian dari rumahnya; Kamar itulah seluruh rumahnya …”

Adu itu kalimat .. getir sekali mas …
Aku seneng membacanya Mas
Sukses ya …

(sengaja aku nggak reply di Japri ..)(supaya yang lain juga
mengetahui bahwa kita punya teman seorang penulis yang paten di
milis ini ..)
Swer ini buku yang “agak lain”

Regards
The CapsLock

opsidium menulis reviewn singkat:

kisahtentang sri yang diombang ambingkan kesusahan hidup menangis karna tak sanggup untuk membeli sepatu seragam gerakjalan ……. meringis karna denganbesahhati memberikan uang tabungan nya untuk biaya rumah sakit ….. ter hina karnatak diberi pinjamna sepatu ….

seperti ceritacerita tahun 80 an …. novelini bukan hanya mengajak yang baca untuk menangis sedih …..tapi menangis akan masa lalu …..

penulis berhasil membawayang baca ke era 80 an …. sepatu bigboss, vina …..

thanks, john!

Ah, Jawa Pos Online ternyata juga mereviewnya…

Senin, 07 Jan 2008,
Kental dengan Budaya Jawa

Sri adalah gadis sederhana asal Desa Ngadirejo. Cewek paling jago olahraga di sekolahnya tersebut terbilang ayu, namun memiliki pribadi tertutup dan cenderung sensitif. Tak banyak yang bisa mengerti jalan pikirannya. Mungkin, itu disebabkan Sri selalu merasa berada di tempat dan waktu yang salah.

Sri memang memiliki otak cukup encer. Posisi di SMP favorit di kabupatennya berhasil didapatnya. Sayang, lingkungan SMP tersebut dirasa kurang kondusif untuk Sri. Kawan-kawannya lahir dari keluarga berada, sedangkan Sri tidak.

Sang ibu hanya berjualan lopis di pasar. Sepeninggal ayahnya, si Mbok harus jadi tulang punggung keluarga. Menjadi penjual kue lopis adalah satu-satunya pilihan.

Suatu ketika, Sri terpilih sebagai salah satu duta sekolah untuk mewakili SMP Ngadirejo dalam lomba gerak jalan. Apakah Sri senang karena terpilih? Jawabannya, tidak sama sekali. Bukan apa-apa, tapi Sri tidak memiliki sepatu yang layak untuk ikut lomba.

Sepatunya berlubang. Selain itu, sepatu satu-satunya tersebut terlihat tak laik digunakan jalan. Mau minta dibelikan oleh si Mbok, hati Sri meronta tidak tega. Tebersit keinginan mengundurkan diri dari tim gerak jalan.

Kekuatan motivasi sang sahabat, Lisa, mampu menumbuhkan semangat baru bagi Sri. Penyusunan rencana dilakukan. Sri dan Lisa memikirkan alternatif cara mendapatkan sepatu baru.

Alternatif pertama, Sri harus mulai menabung, mencari pekerjaan sepulang sekolah, dan mengirit uang saku. Alternatif kedua adalah meminjam sepatu teman lainnya. Untuk saran terakhir, Sri keberatan. Dia trauma dituduh merusak barang pinjaman seperti yang pernah dialaminya dulu.

Bersama sahabatnya, Lisa yang ketua OSIS itu, Sri berusaha mencari uang untuk membeli sepatu. Tapi, saat uang tersebut terkumpul, ada lagi halangan lain yang menghambat langkahnya.

Sang penulis, Arie Saptaji, sukses menyematkan kekentalan budaya Jawa dalam novel ini. Kesederhanaan hidup dan penggalan kisah pewayangan terbilang unik untuk kelas bacaan teenlit, warna baru untuk khazanah novel Indonesia. Belum banyak yang melakukan langkah serupa. (car)

Judul Buku : Warrior “Sepatu untuk Sahabat”
Pengarang : Arie Saptaji
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2007
Tebal Buku : 186 halaman

Begitulah judul artikel di Indo Pos Online

Senin, 07 Jan 2008,
Teladan Kelembutan Hati Sri Melalui Novel Warrior

Makna Hidup Sederhana
Diskusi ringan terjadi saat bookaholic -Atrica Choirun Nisa, Duhita Dwaya Abhirama, Erido Abineri Pravasta, Dhanni Ratnaningtyas, dan Mohammad Erstda Trapsilantya- membahas novel berjudul Warrior.
———

Novel yang mengemas nuansa era 1980-an ini terbilang unik untuk didiskusikan. Pasalnya, bukan karena pokok cerita yang tidak umum. Tapi, lebih pada pengemasan kisah yang unik. Penulis lihai dalam menyajikan kisah dengan bahasa bilingual, Indonesia dan Jawa. Hal yang tidak biasa ada pada novel berjenis teenlit.

“Aku sempat bingung lho mengartikan maksud cerita, yang disampaikan dalam bahasa Jawa,” celetuk Duhita mengawali percakapan. “Kenapa bingung?” tanya yang lain kompak. “Bahasa Jawanya tergolong nggak umum, sih,” jawab Duhita. Yang lain pun mengangguk setuju.

Bahasa Jawa memang sangat dekat dengan keseharian. Namun, penuturan beberapa kisah dalam novel Warrior menggunakan bahasa Jawa yang levelnya agak kurang umum. Praktis, beberapa bookaholic kebingungan buat mencerna bahasa yang kurang umum ini.

Oke-oke, kalau ngomentarin soal bahasa dalam buku, rasanya kurang menarik, deh. Trus, gimana tuh soal ceritanya sendiri? Cerita dalam novel ini memang cukup simpel. Mengisahkan seorang anak cewek bernama Sri. Dia menjadi duta sekolah dalam lomba gerak jalan. Sayang, Sri tidak memiliki sepatu yang layak. Nah, cara Sri mendapatkan sepatu inilah yang menjadi cerita utama.

“Kasihan banget ya Sri. Masak, ke sekolah aja, masih kudu pakai sepatu berlubang, sih,” celetuk Dhanni. Dia mengingat bookaholic lain untuk selalu bersyukur dengan anugerah yang ada sekarang. Pernyataan Dhanni sontak membuat yang lain terperanga.

Sri adalah anak bakul lopis di pasar. Sepeninggal ayahnya, sang ibu harus jadi tulang punggung keluarga. Penghasilan yang kurang dari cukup itu praktis membuat Sri tidak bisa berbuat banyak. Apa yang ada, itulah hartanya. Bahkan, sepatu berlubang sekalipun.

“Yang ngejengkelin tuh sikap teman-teman Sri itu, lho,” ujar Erido membuat yang lain menoleh padanya. Erido simpati pada Sri yang sering diolok-olok sang teman. Terutama dengan latar belakang keluarga Sri. Para siswa di SMP Negeri Ngadirejo selalu mengejek Sri dengan menirukan lagu si Unyil. Liriknya diganti menjadi: Pis ketan lopis tiwul … Pis, ketan lopis, tiwul…

Yup, Sri memang orang yang tertutup. Biasanya, pribadi introvert tidak mudah menerima olokan. Bagi mereka yang sensitif, olokan sekecil apa pun pasti akan dipikir. Nggak bisa disalahkan juga, dong! Trus, apa nih yang kalian dapet setelah membaca novel ini?

Dhanni mencoba menjawab. “Di sini kita bisa lihat kesederhanaan seorang Sri dalam menghadapi hidup,” tuturnya. “Nggak cuma itu,” sambung Atrica. “Kita juga bisa mencontoh pengorbanan Sri sebagai seorang manusia, yang menolong sesama.”

Meski Sri tergolong belum cukup memenuhi kebutuhan pribadi, jiwa sosialnya tidak mati. Impitan keadaan membuat Sri tahu rasanya kesusahan. “Ada rasa bahagia tak terlukiskan ketika hati menuruti keinginan untuk berbagi.” Begitu kata Sri, tokoh utama dalam novel ini. (car)

ulasan pertama!

warrior, sepatu untuk sahabat
CATATAN REMAJA 80-AN

Judul WARRIOR: Sepatu untuk Sahabat
Pengarang Arie Saptadji
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Desember 2007
177 hal
Ragam Sastra Teenlit

Dari bumi Ngadirejo ini, ke langit mana engkau akan mengangkasa meraih
bintangmu, Sri?(hal 57)

Ke langit yang bersahaja tanpa bintang-bintang. Asalkan tidak mendung dan
hujan, cukuplah. Begitulah cita-cita sederhana seorang remaja dari desa.

Membaca buku ini saya jadi teringat Children of Heaven, film tentang anak
terbaik produksi Iran yang diputar dalam Jiffest beberapa tahun lalu.
Kisahnya mirip, anak yang mendaftar untuk ikut lomba lari karena hadiahnya
adalah sepatu baru, yang akan dia hadiahnya kepada adiknya.

Ceritanya sederhana. Dibuka dengan kisah Sri Suryani, siswi kelas 2 SMP
Negeri Ngadirejo, yang khawatir ketika ia terpilih menjadi salah satu
anggota lomba gerak jalan sekabupaten Temanggung. Apa masalahnya?Ya itu
tadi. Sepatu. Sepatunya bolong. Kalau dipakai latihan, tampilan sepatunya
pasti lebih buruk di hari H. Ia perlu sepatu baru. Sepatu Warrior, yang
tahun 80-an adalah sepatu yang mungkin paling popular di seluruh sekolah
di nusantara ini. Sepatu hitam dengan bahan kain, berhak nyaris rata,
dengan tali putih.

Untuk membeli yang baru, rasanya berat. Tentu saja. Sri anak yatim. Ibunya
seorang penjual ketan, lopis, tiwul, gerontol (penganan dari jagung yang
direbus), dan sesekali menerima upah cuci setrika tetangga. Mereka tinggal
di rumah yang hanya sekamar luasnya, dengan lantai tanah yang sudah
mengeras
Tapi Sri tidak putus asa. Ia bertekad untuk membeli sepatu dari hasil
keringatnya sendiri. Pintu demi pintu terbuka. Lika-liku hingga akhirnya
ia mendapatkan sepatu itu, sungguh klasik dan lembut, mengharukan. Seperti
yang dikatakan Paulo Coelho, ketika seseorang bertekad untuk meraih
sesuatu, alam semesta akan dengan serta-merta berkompromi untuk membantu.

Dunia yang damai
Remaja menempati sisi dunia yang aktif, dipenuhi kegembiraan dan kenakalan
khas yang dimaklumi orang dewasa. Di tangan seorang Arie Saptajie, remaja
ada di dunia yang damai dan menyenangkan. Yang baik akan diberi
penghargaan, yang nakal akan dihukum. Arie rajin berpesan moral. Ia
melukiskan persahabatan indah Sri dan Lisa yang berjalan mulus, nyaris
tanpa konflik. Kesabaran Sri yang teguh dalam menanti apa yang diperlukan,
melukiskan kebersahajaan khas orang kecil yang sadar diri akan
keterbatasannya.

Ada tokoh antagonis, yaitu Titin. Sebenarnya bila tokoh ini dibangun
sebaik Sri, mungkin akan lebih mempertegas hitam putih cerita. Namun
sayang, ia dimunculkan sekedarnya. Tiba-tiba menjadi pecundang ketika
menolak Lisa yang meminta untuk meminjamkan sepatu Warriornya untuk Sri.
Titin pun ‘dihukum’.

Arie memilih bahasa yang sopan dan anggun untuk ukuran remaja sekarang,
dibandingkan majalah remaja Gadis, Aneka, Hai, misalnya. Memang jadi
terkesan membosankan. Namun kelebihan Arie, ia menghadirkan istilah dan
suasana Jawa yang kental, sehingga memberi kedekatan tertentu pada
masyarakat tertentu. Bukan itu saja. Dengan cara menggiurkan pengarang
asli Yogya ini mencatat kuliner khas sego gono atau empis-empis -hidangan
serbalombok yang dicampur tempe bongkrek, tahu, ikan asin.

Catatan remaja 80-an
Secara emosi, saya curiga buku ini terlalu ‘canggih’ untuk remaja, secara
ia termasuk pada ragam teenlit. Kisah ulang peluncuran pesawat Discovery
ke angkasa tahun 1985, apakah menarik bagi remaja sekarang? Atau tokoh
Adam Malik dengan ‘Semua bisa diatur’-nya yang popular waktu itu atau
pelari Jesse Owen, sprinter Purnomo, Kartini, Indira Gandhi?

Belum lagi pilihan kata yang tergolong ‘tinggi’ bagi remaja seperti
cergas, bernas, memunggah, kampium, menukilkan, zaman edan,
berdompol-dompol, sumarah, legawa, cangkriman, pitik walik, membuhulkan,
jembar, didapuk, mencatu.

Saya berpikir orang dewasa yang masa remajanya sekitar tahun 80-an,
mungkin akan tersenyum geli saat diingatkan lagu Untuk Sebuah Nama yang
dilantunkan (almarhum) Pance Pondaag atau iklan ‘Epilepsi, bukan penyakit
turunan dan tidak menular’, lalu, ajakah ‘Kita main bola lagi yuk, Di!’.
Atau juga jargon mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga
atau istilah GN-OTA.

Bagi remaja masa kini, mungkin hatinya takkan tergetar saat mengetahui
harga sepatu Warrior yang diimpikan Sri ‘hanya’ berharga 8 ribu rupiah,
yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu pake nasi di Mc Donald’s.
Bagaimana pun, buku ini tetap asyik untuk dibaca. Seperti pendapat Luna
Torashyngu, salah satu endorser buku ini, ini adalah karya klasik untuk
remaja.

ita siregar, jan 2008

akhirnya terbit…

warrior.jpg

TeenLit: WARRIOR: SEPATU UNTUK SAHABAT
Arie Saptaji
Novel remaja karya asli;

GM 31207046;

ISBN 978-979-22-3426-8;

192 hlm;

13.5×20cm;

Rp 23.000

Sri cewek paling jagoan olahraga di SMP-nya. Tapi saat namanya diumumkan jadi anggota regu gerak jalan untuk perlombaan sekabupaten, ia justru gundah. Soalnya sederhana: Sri tidak punya uang buat beli sepatu baru, sementara sepatunya yang sekarang sudah berlubang ujungnya.
Apa iya, Sri lalu mesti mogok nggak ikut lomba saat harapan teman-teman satu sekolahnya, bahkan satu kelurahannya ada di pundaknya?
Bersama sahabatnya, Lisa yang ketua OSIS, Sri berusaha mencari uang untuk membeli sepatu. Tapi saat uang itu kemudian terkumpul, ada lagi halangan lain yang menghambat langkah Sri….

Boleh dibilang ini adalah classic TeenLit.
—Luna Torashyngu, penulis Beauty and the Best dan Lovasket

Dengan atmosfer budaya Jawa yang kental, novel ini menyuguhkan sesuatu yang unik, berbeda, tapi juga sangat dekat dengan kehidupan kita.
—Ken Terate, penulis My Friends, My Dreams dan Marshmallow Cokelat

Selain di toko-toko buku terdekat, dapat pula diperoleh secara online di:

cibuku, inibuku, bukukita

komingtar buat warrior

menurut kabar terbaru, warrior sudah jilid cover, minggu depan masuk gudang, minggu depannya lagi… jreeng, mejeng di toko buku!

sementara ini, berikut komingtar tentang teenlit pertamaku ini:

Sisi lain dari  cerita TeenLit, nggak melulu menggambarkan kehidupan remaja di kota besar, tapi juga remaja di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk metropolitan, dengan cerita yang sangat sederhana, tapi mempunyai alur yang sangat dalam dan mengena. Boleh dibilang ini adalah classic TeenLit

Luna Torashyngu, penulis Love Detective, Victory, Beauty and the Best, Dua Rembulan, Angel’s Heart, dan Lovasket.

Kesederhanaan membuat novel ini berbeda dari novel-novel lainnya. Mengangkat kehidupan Sri yang sederhana, melalui bahasa dan plot  yang sederhana pula, penulis seolah ingin mengingatkan bahwa cerita tentang kebaikan dan keteguhan yang pasti akan menang adalah cerita yang tak lekang oleh waktu.

Dengan atmosfer budaya Jawa yang kental, novel ini menyuguhkan sesuatu yang unik, berbeda, tapi juga sangat dekat dengan kehidupan kita.

Ken Terate, penulis My Friends, My Dreams; Dokter, Pelukis, dan si Cowok Plin-Plan, Join the Gang, Marshmallow Cokelat, dan Jurnal Jo.

Wah mas ari ki pie to… aku nangis ko ditulis neng ngeBLOG… Kan yo isin… hahaha… Akhirnya telur itu pecah juga… Haha ra tau moco novel, moco pisan ndleler… Oalahh… ndadak… nganggo nangis barang to, Wan!!! Tapi novel’e Mas Ari TOP MARKOTOP kok… Lha aku sampe nangiZ jee… (Kok bisa ya??) Sri… I love u. Two thumbs up, Mas!!

—wawanISI, pembaca, Jogjakarta.

matur nuwun, luna, ken, dan wawan!

« Newer Posts - Older Posts »